Gejala Atresia Ani yang Harus Anda Ketahui

Atresia ani merupakan suatu kelainan atau cacat bawaan yang jarang ditemukan dan terjadi. Penyakit ini ditandai dengan tidak adanya anus atau lokasi anus yang tidak berada di tempat semestinya. Saat janin masih berada dalam masa perkembangan, saluran pencernaan bayi juga akan mengalami perkembangan. Jika terdapat kesalahan, saluran cerna bayi tidak bisa terbentuk dengan normal.

Di beberapa kasus, gangguan perkembangan bisa menimbulkan atresia ani. Pada kasus ini, usus besar dapat terhubung melalui sebuah saluran ke kandung kemih. Gejala atresia ani bisa berbeda-beda antara bayi yang satu dengan lainnya. Beberapa gejala yang biasanya terjadi meliputi :

  • Tidak terdapat anus atau lokasi anus yang tidak seperti biasanya.
  • Perut bengkak. Bayi yang menderita penyakit ini, tidak bisa buang air besar selama 24 – 48 jam
  • Bayi tidak memiliki lubang anal.
  • Pada bayi perempuan, posisi lubang anal berada di tempat yang salah, seperti terlalu dekat dengan vagina.
  • Feses keluar melalui tempat yang salah, seperti uretra, vagina, skrotum, atau pangkal penis.
  • Infeksi lain.
READ  Bagaimana Cara Mengobati Atresia Ani?

Berdasarkan beberapa penelitian, penyakit atresia ani bisa terjadi pada satu dari 1 antara 5000 bayi. Penyakit ini juga lebih sering dialami oleh bayi laki-laki dibandingkan dengan bayi perempuan. Kasus atresia ani sangatlah beragam. Tingkat keparahan bergantung pada :

  • Panjang saluran pencernaan bayi.

Kelainan akan lebih mudah ditangani melalui prsedur pembedahan apabila rektum hampir mendekati posisi anus yang normal.

  • Pengaruh atresia ani pada otot di sekitarnya.
  • Posisi akhir saluran rektum.

Apabila tidak ada di tempat seharusnya (contohnya terhubung di vagina atau penis), kondisi ini membutuhkan penanganan dengan prosedur pembedahan.

Jika tidak ditangani dengan baik, komplikasi atresia ani bisa saja terjadi. Contohnya, tidak bisa menahan buang air besar dan buang air kecil, dan munculnya infeksi lain.

Penyebab Atresia Ani

Bayi yang mengalami kondisi normal, saluran kemih, lubang anus dan kelamin akan terbentuk saat usia kehamilan memasuki delapan minggu. Hal ini terjadi melalui proses pembelahan dan pemisahan dinding – dinding pencernaan janin. Tetapi, jika terjadi gangguan saat masa perkembangan janin, kondisi ini bisa mengakibatkan atresia ani. Belum diketahui secara pasti apa penyebab atresia ani namun dugaan oleh ahli medis yatu karena genetika atau faktor keturunan.

READ  Gejala Auditory Processing Disorder yang Harus Anda Perhatikan

Komplikasi Atresia Ani

Beberapa komplikasi atau gangguan yang terjadi saat operasi berkaitan dengan saluran pencernaan. Sebagai contoh, operasi pembuatan lubang pengganti anus (kolostomi) dapat menyebabkan resiko infeksi organ – organ kemih menjadi meningkat. Komplikasi atau gangguan yang bisa terjadi yaitu stenosis (penyempitan) di lubang anus buatan. Hal ini terjadi jika kulit penderita memiliki kecenderungan untuk membentuk keloid (jaringan parut). Keadaan ini juga membutuhkan perbaikan kembali dengan operasi atau pembedahan.

Pengobatan Atresia Ani

Untuk penanganan atresia ani, pemeriksaan dini disarankan untuk dilakukan untuk mengatasi gejala atresia ani yang ada. Prosedur yang akan dipilih akan dipertimbangkan oleh dokter sesuai kondisi kesehatan bayi.  Bayi yang tidak memiliki lubang anus akan diberi asupan melalui infus. Apabila ada fistula (terowongan abnormal yang muncul antara dua saluran normal seperti antara pembuluh darah, usus, atau organ tubuh) dokter akan menyarankan untuk menggunakan antibiotik.

READ  Beberapa hal yang dapat menyebabkan sakit kepala sebelah kanan

Sebagian besar kasus lubang anus yang tertutup membutuhkan operasi secepatnya. Hal ini dikarenakan saluran pembuangan kotoran sangat dibutuhkan. Tetapi operasi untuk mengatasi atresia ani tidaklah mudah dan mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi karena posisi organ yang mengalami gangguan berada jauh di dalam panggul. Faktor bayi yang masih dalam kondisi lemah juga menjadi kesulitan prosedur pembedahan. Hal ini menyebabkan resiko untuk mengalami komplikasi juga meningkat.

 

Sumber :

www.sehatq.com

www.mayoclinic.org

Pexels.com